Perempuan.co

Berita Independent & Inspiratif

URL Berhasil Disalin
Woman

Bu Ruswo, Pahlawan Belakang Layar Yang Mengorganisir Dapur Umum di Yogyakarta Selama Revolusi Indonesia.

Bu Ruswo, Pahlawan Belakang Layar Yang Mengorganisir Dapur Umum di Yogyakarta Selama Revolusi Indonesia.
Ibu Ruswo saat diberi penghargaan oleh bung karno

Perempuan.co – Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada sebuah ruas jalan yang diberi nama Jalan Ibu Ruswo. Jalan ini terletak di Kelurahan Prawirodirjan Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Tanpa predikat sebagai tokoh terkenal berkaliber nasional, wajar tidak banyak orang yang tahu. Boleh jadi orang akan bertanya-tanya siapa Ibu Ruswo sampai namanya diabadikan sebagai nama jalan di kota budaya ini.

Dalam periode Revolusi 1945-1949, Yogyakarta menyimpan memori sejarah yang sangat kaya. Salah satunya Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949. Serangan besar-besaran ini berhasil menunjukkan eksistensi Republik Indonesia di mata dunia internasional. Sebelumnya, Belanda melancarkan Agresi Militer II atau Operasi Kraai (Burung Gagak) terhadap Yogyakarta sebagai Ibukota RI waktu itu. Akibatnya para pemuda bersama tentara bergerak meninggalkan Yogyakarta menuju ke luar kota dan mengatur strategi perang gerilya.

Kota Mati

Yogyakarta bagaikan kota mati. Penduduk tersisa hanyalah orangtua, perempuan, dan anakanak. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat juga terus menurun. Warga hidup berkekurangan dan harus menjual barang-barang berharganya untuk sekadar meladeni urusan perut. Kebutuhan logistik para prajurit di medan gerilya harus dipasok dari kota dan keraton. Pada masa sulit inilah muncul Ibu Ruswo, seorang perempuan tangguh, yang menjadi ëibuí bagi para prajurit.

Warga sekitar Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta mengenal Ibu Ruswo sebagai pelopor yang menggerakkan kaum perempuan di sekitarnya untuk memasak dan menyediakan makanan bagi para pejuang. Setiap hari dapurnya mengepul demi menyokong perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ikhlas menyulap rumahnya yang terletak di gang sempit paling timur di Jalan Yudonegaran (sekarang Jalan Ibu Ruswo) sebagai dapur umum.

Lahir tahun 1905 di Yogyakarta dengan nama Kusnah. Suaminya bernama Ruswo sehingga setelah menikah beliau menggunakan nama Nyi Kusnah Ruswo Prawiroseno. Ibu Ruswo aktif berjuang melalui berbagai organisasi sosial sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang. Pada masa revolusi, Ibu Ruswo juga ikut berjuang dengan cara dan kemampuannya sendiri.

Para pejuang revolusi di Yogyakarta tentu sangat berutang budi pada Ibu Ruswo. Atas jasanya itu Ibu Ruswo dianugerahi Bintang Gerilya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Meninggal tahun 1960, namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan utama dekat rumahnya di seputaran Alun-alun utara Yogyakarta.

Tanpa usaha dan keikhlasan hati Ibu Ruswo tentu tentara kita akan mengalami kekurangan logistik di medan perang. Sayang tidak banyak informasi tentang Ibu Ruswo. Namanya pun luput disebut dalam buku-buku sejarah seakan menabalkan sejarah sebagai history (narasinya – laki-laki) bukan herstory (narasinya – perempuan). Suhartono (2010) menyebut sejarah cenderung androsentric karena banyak bicara tentang kekuasaan, pemerintahan, perang, politik, militer, dan sejenisnya. Perempuan hanya menjadi objek pelengkap kisah.

Sejatinya ada banyak fakta sejarah perempuan yang dapat dikaji. Bukan berkutat soal diskriminasi terhadap perempuan namun juga keberadaan tokoh-tokoh pejuang kaumnya. Meski tidak sefenomenal Kartini, kisah perjuangan Ibu Ruswo sebenarnya tak kalah heroik. Maka sepatutnya peran Ibu Ruswo dalam SO 1 Maret perlu tersentuh tinta emas sejarah.

Peran Perempuan

Upaya menghadirkan peran Ibu Ruswo pertama kalinya tampak dalam Film Sebelum Serangan Fadjar yang dirilis pertengahan tahun 2014 lalu. Film non komersial ini diproduksi oleh Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan Sanggit Citra Films. SutradaraTriyanto Hapsoro dengan jeli menyoroti perspektif yang berbeda dengan film-film bertema sama yang dibuat sebelumnya. Detail-detail seperti aktivitas Ibu Ruswo di dapur bersama anggota Laskar Wanita yang bertugas sebagai kurir surat semasa revolusi berhasil menampilkan kontribusi semua elemen masyarakat dalam perjuangan kemerdekaan. Tentu ini merupakan langkah positif bagi kesetaraan jender dalam dinamika sejarah bangsa.

Selanjutnya dapat dipikirkan kajian yang lebih mendalam untuk menjajaki kemungkinan pemberian gelar pahlawan bagi Ibu Ruswo. Jika terwujud maka kelak bakal menambah daftar pahlawan dari kaum perempuan. Tentu bukan semata soal kuantitas, namun terlebih sebagai bentuk penghargaan yang sepatutnya diberikan terhadap peran perempuan. Bahwa perempuan tidak dipandang sebelah mata namun sungguh dengan caranya masing-masing memberi sumbangsih bagi bangsa dan Tanah Air ini.

Source :

  1. Harian Kedaulatan Rakyat
  2. Balai Pelestarian Nilai Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten